Dilihat dari literature sejarah, perilaku seks bebas sudah pernah
menjadi tradisi dalam masyarakat zaman jahiliyah dulu. Zaman di mana
kondisi masyarakat Arab pra-Islam yang sangat tenggelam dalam “tanah
lumpur” kebodohan dan keterbelakangan. Masyarakat senang pertikaian dan
pembunuhan, kekejaman dan suka mengubur anak perempuan. Potret social
mereka begitu gelap, amat primitive dan jauh dari peradaban. Pada zaman
itulah berlaku tradisi perkawinan model seks bebas.
Imam Bukhori meriwayatkan dalam sebuah hadist yang diceritakan melalui
istri Nabi, Aisyah ra, bahwa pada jaman jahiliyah dikenal 4 cara
pernikahan. Pertama, gonta-ganti pasangan. Seorang suami memerintahkan
istrinya jika telah suci dari haid untuk berhubungan badan dengan pria
lain. Bila istrinya telah hamil, ia kembali lagi untuk digauli suaminya.
Ini dilakukan guna mendapatkan keturunan yang baik. Kedua, model
keroyokan. Sekelompok lelaki, kurang dari 10 orang, semuanya menggauli
seorang wanita. Bila telah hamil kemudian melahirkan, ia memanggil
seluruh anggota kelompok tersebut tidak seorangpun boleh absent.
Kemudian ia menunjuk salah seorang yang dikehendakinya untuk di
nisbahkan sebagai bapak dari anak itu, dan yang bersangkutan tidak boleh
mengelak. Ketiga, hubungan seks yang dilakukan oleh wanita tunasusila
yang memasang bendera / tanda di pintu-pintu rumah. Dia “bercampur”
dengan siapapun yang disukai. Keempat, ada juga model perkawinan
sebagaimana berlaku sekarang. Dimulai dengan pinangan kepada orang tua /
wali, membayar mahar, dan menikah.
Jika menyimak 3 model pertama dalam perkawinan masyarakat zaman
jahiliyah di atas, ada kesamaan budaya dengan perilaku seks bebas, MBA,
prostitusi dan hamil di luar nikah yang kian marak di zaman sekarang.
Adakah ini pertanda titik balik budaya kontemporer yang bakal kembali ke
zaman jahiliyah yang primitive dan gelap seperti dulu ?